Selasa, 09 Desember 2008

gerakan komik underground

Komik Indonesia telah mengalami titik redup sejak 1980-an. Komik Indonesia telah kalah dengan serbuan komik asing di kandang sendiri, terutama manga (komik jepang) dan produk-produk anime dari Jepang. Komik Indonesia memang sulit diproduksi sehingga banyak penerbit suka menerbitkan komik impor. Ditengah-tengah gempuran demikian, komik Indonesia diam-diam terus menggeliat oleh gerakan komik underground. Komik Indonesia tidak pernah mati. Inilah saatnya perlawanan, let’s break the circle.
Istilah komik underground sering disebut komik independen atau komik indie label. Intinya sama, melakukan perlawanan terhadap konvensi artistik dan pemasaran. Ini merupakan suatu perjuangan karena banyak tembok penghalang yang harus dilawan untuk melahirkan sebuah komik yang bisa dibaca banyak orang.
Dua tiga tahun terakhir ini seiring dengan geliat penerbitan buku-buku dan media alternatif ( bulletin, newsletter, communitty magazine ) di Yogyakarta dan Bandung, dua kota dimana perkembangan cultural studies-nya sedang memuncak bermunculan terbitan-terbitan komik underground mewarnai jejek perjalanan sejarah komik Indonesia.
Komik Selamat Pagi Urbaz terbitan Terran Books yang baru saaja sukses mendulang keuntungan dari penerbitan novel Eiffel, I’m in Love. Di Yogya muncul antologi komik bertajuk Subversi Komik yang terbit sejak Mei 2004. Di Bandung terbit komik Bangor karya Raditya Eka Permana yang bergaya kartun setengah manga dan komik Wanter karya Dodi Rosadi. Ada juga komik SC ( Super Condom ) yang begitu nyeleneh dan Dave Salamander komik lokal karya Tunjung Rukmo dan Denny Djoenad. Produk-produk independen semacam ini bergeliat di toko-toko buku komunitas atau biasa disebut distro, selain ada juga yang menempuh jalur distribusi toko buku umum seperti Selamat Pagi Urbaz.
Perkembangan komik lokal yang diteruskan oleh para ‘;pejuang underground’ memang menggembirakan walau sekaligus menyimpan kecemasan. Menggembirakan karena menghasilkan produk dari pelbagai komunitas komik, tapi mencemaskan karena karya yang ada rata-rata masih gagal secara apresiatif.
Para komikus yang rata-rata ‘bersembunyi’ dalam profesi lain misalnya animator iklan, desainer grafis, dan ilustrator buku atau majalah natabene masih kurang mengeksplorasi kemampuan terbaiknya dalam menghasilkan komik. Alhasil, komik yang ada cenderung senada –kebanyakan bergaya manga dan anime jepang. Atau ketika mengeksplorasi gaya lain, tetap aja terjerembab pada kemiskinan bercerita sehingga walau unggul secara visual tapi gagal secara naratif. Misalnya sastra, yang begitu dengan hakikat bercerita, jarang muncul sehingga karya yang dihasikan kurang mampu di apresiasi dari perspektif lain. Sebutlah R.A Konasih dengan komik wayangnya adalah bukti keberhasilan dia meretes bidang lain, yaitu sejarah dan filsafat wayang setelah pencapaian visual.
Bukan hal mudah jika para komikus yang hanya menghasikan karya yang notabene kurang berpotensi menjadi karya besar. Tumbuhya gerakan komik underground di Indonesia memang belum sebanding dengan yang pernah terjadi di Amerika, walaupun bukan berarti tak ada harapan suatu saat karya komik lokal kita unggul secara kualitas dan kuantitas.
Saat ini walau gerakan komik underground Indonesia masih belum menghasilkan karya-karya yang layak secara apresiatif sebenarnya masih menyisakan harapan bahwa perjuangan dengan cita-cita menegakkan jayanya komik nasional tak pernah surut. Tekanan yang muncul dari berbagai hambatan dan rintangan untuk berkembang, memang kemudian justru menciptakan ruang-ruang perlawanan kreatif dari para komikus muda.
Tumbuhnya pelbagai komunitas komik underground Indonesia sebagai representasi perlawanan terbitnya komik impor adalah indikasi kegairahan itu sehingga bukan tak mungkin suatu saat dapat menjadi seperti perlawanan yang dilakukan komunitas komik underground di Ameroka, yaitu berhasil menjadi gerakan yang sekaligus unggul secara kualitas.
Semangat komikus muda yang terbuka pada pelbagai pemikiran hendaklah digali lebih luas sehingga komik nasional suatu saat benar-benar mampu berdiri tegak secara kualitas, tak hanya menjadi letupan kecil semata. Stand up for creativity! (ocl/indiecomic.com)

Senin, 08 Desember 2008

Komik Tak Pernah Mati


Oleh Donny Anggoro

Komik Indonesia boleh saja mengalami masa surut sejak 1980-an. Komik Indonesia boleh saja kalah pamor dengan serbuan komik asing, terutama komik manga dan produk-produk anime dari Jepang. Komik Indonesia juga boleh saja sulit diproduksi sehingga banyak penerbit lebih suka menerbitkan komik impor. Di tengah-tengah gempuran demikian, komik Indonesia diam-diam terus menggeliat, terutama gerakan komik underground.
Sekitar tahun 1994 komik Indonesia bangkit walau tampaknya masih terengah-engah dengan munculnya komik Rama-ShiTa:Legenda Masa Depan dan komik Imperium Majapahit oleh Gen Mintaraga. November 1995 ada Caroq oleh Thoriq dari Studio Qomik Nasional dan Awatar Comics oleh Doddy Wisnuwardhana. Ajang komik nasional seperti Pekan Komik Nasional juga kerap kali digelar, walau tak bisa setiap tahun secara rutin dilangsungkan. Tahun 2003 komik M&C! divisi Gramedia menerbitkan sekaligus tiga judul produk komik lokal yaitu Alakazam (Donny), Dua Warna (Alfi ”Sekte Komik” Zachkyelle) dan Tomat (Rachmat Riyadi).
Dua tiga tahun terakhir ini, seiring dengan geliat penerbitan buku-buku dan media alternatif (bulletin, newsletter, community magazine, dan e-zine) di Yogyakarta dan Bandung, dua kota tempat perkembangan cultural studiesnya sedang memuncak, bermunculan terbitan-terbitan komik underground mewarnai jejak perjalanan sejarah komik Indonesia.
Beng Rahadian, satu dari komikus muda generasi komikus underground Indonesia macam Ahmad ”Sukribo” Ismail, Agung ”komikaze” Arif Budiman, Wahyu, dan lain-lain tak gentar membuat komik bertajuk Selamat Pagi Urbaz terbitan Terrant Books yang baru saja sukses mendulang keuntungan dari penerbitan novel Eiffel, I’m in Love.
Di Yogya muncul antologi komik bertajuk Subversi Komik yang terbit sejak Mei 2004. Antologi komik ini berusaha menghimpun karya komikus muda pejuang komik underground seperti Ahmad ”Sukribo” Ismail, Agung ”komikaze” Arif Budiman, Wahyu, Windu dan lain-lain. Uniknya, Subversi Komik ini benar-benar sebuah produk yang tak hanya digagas sebagai wadah kreativitas dan lahan publikasi komik underground saja, melainkan sekaligus digagas sebagai representasi kritik terhadap pemerintah yang telah nyata gagal menangani problem sosial bernama kemiskinan.
Di Bandung terbit komik Bangor karya Raditya Eka Permana. Komik bergaya kartun setengah manga ini begitu sarat dengan idiom-idiom slang khas Bandung. Selain itu terbit pula komik Wanter yang bergaya surealis mirip karya komikus Peter Kuper karya Dodi Rosadi (sayangnya tak jelas komik ini diterbitkan di Bandung atau Yogya). Ada juga komik SC (Super Condom) yang begitu nyeleneh karena secara fisik komik ini dibuat dalam format kecil, mirip bungkus permen. Penerbit Indira yang semula hanya dikenal menerbitkan komik impor dengan serial Tintin sebagai produk andalannya pada tahun ini juga ikut menerbitkan Dave Salamander komik lokal karya Tunjung Rukmo dan Denny Djoenad. Produk-produk independen semacam ini bergeliat di toko-toko buku komunitas (disebut ”distro”) selain ada juga yang menempuh jalur distribusi toko buku umum seperti Subversi Komik, Selamat Pagi Urbaz, Caroq, dan lain-lain.
Perjalanan komik pun tak hanya kepada format komik saja. Majalah komik IndiComic Handbook yang merupakan hasil kerja bareng berbagai komunitas komik underground seperti MKI (Masyarakat Komik Indonesia), Indietown, Titikberat, dan lain-lain juga terbit. Majalah yang formatnya tak sekedar etalase komik karya komikus underground ini juga berisikan artikel, resensi, dan ulasan komik. Tak lama kemudian, terbit pula majalah komik Wizard Indonesia yang merupakan franchise majalah komik Amerika, Wizard. Walau majalah franchise ini notabene mengandung artikel impor, Wizard Indonesia juga menyediakan rubrik khusus berupa ulasan komik lokal sebagai upaya mendukung tumbuhnya perkembangan komik underground Indonesia.

***
Mengamati perkembangan komik lokal yang diteruskan oleh para ”pejuang underground” memang menggembirakan walau sekaligus menyimpan kecemasan. Menggembirakan karena menghasilkan produk dari pelbagai komunitas komik seperti Sekte Komik, Daging Tumbuh, Apotik Komik, Studio’9, dan lainnya, tapi mencemaskan karena karya yang ada rata-rata masih gagal secara apresiatif.
Para komikus yang rata-rata ”bersembunyi” dalam profesi lain misalnya animator film-film iklan, desainer grafis, dan ilustrator buku/majalah notabene masih kurang mengeksplorasi kemampuan terbaiknya dalam menghasilkan komik. Alhasil, komik yang ada cenderung senada (kebanyakan bergaya manga dan anime Jepang). Atau ketika mengeksplorasi gaya lain, misalnya kartun atau komik Eropa-Amerika, tetap saja terjerembab pada kemiskinan bercerita sehingga walau unggul secara visual tapi gagal secara naratif.
Semangat kreator yang sejatinya terbuka pada pemikiran dan aspek-aspek lain, misalnya sastra (yang begitu dekat dengan hakikat bercerita) jarang muncul sehingga karya yang dihasilkan kurang mampu diapresiasi dari perspektif lain. Ini memang bukan hal yang mudah. Namun, sejarah komik Indonesia pernah menghasilkan komikus-komikus dengan semangat kreator. Sebutlah R.A Kosasih yang dengan komik wayangnya adalah bukti keberhasilan dia meretas bidang lain, yaitu sejarah dan filsafat wayang setelah pencapaian visual.
Ada juga Put On di harian Sin Po (terbit tahun 1931) karya Sopoiku alias Kho Wang Ghie yang merupakan bibit awal komik strip pertama di Indonesia. Put On adalah keberhasilan Kho Wang Ghie mengangkat suasana karikatural penduduk kota yang diwujudkan dalam tokoh Put On yang selalu sial tapi baik hati. Suasana karikatural yang ditangkap Kho Wang Ghie dalam karyanya mengandung kekuatan aspek sosiologis. Sama halnya dengan Kosasih, inilah kekuatan komikus lokal kita dalam merepresentasikan aspek lain setelah teknik visual.
Kosasih dan Kho Wang Ghie adalah sebagian kecil kekuatan semangat kreator dari sejarah komik nasional kita. Masih banyak nama lain seperti Teguh Santosa, Ganes Th., Hans Jaladara (sejarah), Hasmi dan Wid N.S (fiksi ilmiah), Dwi Koendoro (sejarah/sosiologi/ wayang simbolis), GM Sudarta, Rachmat Riyadi (sosiologi/imajiner/karikatural) dan lain-lain.

***
Bukan hal mudah jika para komikus hanya menghasilkan karya yang notabene kurang berpotensi menjadi karya besar. Para komikus umumnya bekerja sendiri karena komiknya dikerjakan di luar rutinitasnya sebagai pekerja. Kehidupan dalam komunitas komik sendiri juga belum berani membuka diri terhadap disiplin ilmu lain. Iklim sosiologis yang kurang bersahabat dengan produk komik juga menjadi kendala sehingga tak ada lagi yang berani menggantungkan hidupnya hanya dengan membuat komik. Serbuan komik impor sendiri juga melulu dianggap sebagai musuh, bukan sebagai kajian apalagi acuan mengapa produk impor dapat unggul secara kuantitas dan kualitas.
Tumbuhnya gerakan komik underground di Indonesia memang belum sebanding dengan yang pernah terjadi di Amerika, walau bukan berarti tak ada harapan suatu saat karya komik lokal kita unggul setelah pencapaian visual.
Sejarah komik underground Amerika menghasilkan komik-komik yang apresiatif karena juga terinspirasi pada gerakan flower generation yang antiperang (Vietnam) sebagai representasi ketidakpuasan masyarakat terhadap kemiskinan. Produk gerakan underground lain yang paling terkenal dan masih terbit sampai sekarang adalah majalah komik MAD besutan Harvey Kurtzman. Majalah ini mengutamakan semangat parodi yang diilhami dari kejadian aktual sehari-hari dari pelbagai sudut pandang, mulai dari sosial, politik, dan budaya.
Gerakan komik underground ini makin berkembang dengan menghasilkan karya yang tak hanya menjadi media alternatif saja, melainkan muncul pula komik-komik yang sangat mengutamakan kebebasan berpikir. Komik-komik ini mampu diapresiasi lebih luas, terutama untuk pembaca dewasa seperti seri Heavy Metal atau produk komik keluaran Fantagraphics yang sangat menonjolkan erotisme, komik seri Fables yang meretas kisah antara dongeng, parodi, dan sastra sampai komik jurnalistik karya Joe Sacco (sudah diterjemahkan di Indonesia) yang mampu pula meraih penghargaan prestisius di luar komik.

***
Pada masa kini walau gerakan komik underground Indonesia masih belum menghasilkan karya-karya yang layak secara apresiatif sejatinya masih menyisakan harapan bahwa perjuangan dengan cita-cita menegakkan kembali jayanya komik nasional tak pernah surut. Kendala-kendala yang ada hendaknya membuka harapan perkembangan komik lokal kita menuju masa depan lebih cerah.
Tumbuhnya pelbagai komunitas komik underground Indonesia sebagai representasi perlawanan terbitnya komik impor adalah indikasi kegairahan itu sehingga bukan tak mungkin suatu saat dapat menjadi seperti perlawanan yang dilakukan komunitas komik underground di Amerika, yaitu berhasil menjadi gerakan yang sekaligus unggul secara kualitas.
Semangat kreator yang terbuka pada berbagai pemikiran hendaklah digali lebih luas sehingga komik nasional suatu saat benar-benar mampu berdiri tegak secara kualitas, tak hanya menjadi letupan kecil semata. Semoga.

Penulis adalah editor sebuah penerbit dan pencinta komik, tinggal di Jakarta.








Copyright © Sinar Harapan 2003

ZINE


Kebanyakan zine itu sucks! Dan memang nggak ada cara yang lebih halus buat bilang ini. Fakta ini dilontarkan oleh Theodore Sturgeon yang mengatakan bahwa 90% dari segalanya adalah sampah. Tapi banyak orang malah lupa sama sisa 10%-nya. Dan dia bilang itu dia yang layak buat di bela mati-matian.


Dan aku sudah sekarat nih! Zine (dibaca ‘zins’, dari kata ‘fanzines’) isinya adalah gambar-gambar yang digunting-tempel, ‘maaf telat terbit’, majalah yang diterbitkan independen serta dibuat di Kinko’s atau dengan sembunyi-sembunyi di kantor dan disebar lewat mulut atau pos. Mereka menulis tentang seks, musik, politik, TV, film, kerja, makanan atau apapun lah. Mereka adalah para perusak daftar isi majalah yang baik, serta terobsesi oleh banyak obsesi. Mereka luar biasa, juga biasa saja. Mereka berisi keanehan-keanehan yang untungnya karena keanehan-keanehannya diluar sana makanya mereka lega. Kamu bisa tahu banyak tentang seseorang dari zine buatana mereka, yang memang lebih sering bersifat personal dan penuh keanehan daripada sekedar majalah-majalah mengkilap lain yang isinya selebriti-selebriti pujaan mereka yang terlalu sibuk berusaha menjadi terkenal.

Banyak sekali editor fanzine yang pasti masih ingat saat pertama kali mereka membaca Factsheet Five, zine yang mengulas tentang zine dan kemudian mereka bertanya pada diri mereka sendiri, lalu timbul pertanyaan-pertanyaan seperti: (1) ‘Apa saja yang sudah saya lakukan?; atau, (2) ‘Aku bisa membuat itu! Terus, kenapa tidak membuatnya?’ Lalu semua orang langsung terburu-buru membersihkan meja dapur mereka (?) dan langsung bikin hitungan seperti ini: 10.000 zines, 50.000 zines, sama dengan jutaan pembaca. Padahal tidak ada yang tahu jumlah tepatnya berapa. Toh sebuah zine mati, sebuah zine baru pun lahir. Bertahun-tahun sejak aku membuat edisi pertama Chip’s Closet Cleaner zine dan mengirimkan beberapa lembar kepada saudara-saudaraku yang kebingungan, aku sudah bertukar zines, surat, serta email ke ratusan penerbit bawah tanah dan menemukan kalau ternyata kita berbagi keinginan yang sama, kebutuhan yang sama: untuk mencipta. Factsheet Five biasanya mengajukan sebuah pertanyaan sederhana yang licik: kenapa diterbitkan? Dan selalu mendapatkan jawaban yang seru dan juga panjang-panjang dari yang ditanya.

Ujung Berung Rebels



Bandung - Kontroversi seputar komunitas underground di kota Bandung menyeruak selepas terjadinya insiden konser musik underground yang membuat sebelas penontonnya meninggal dunia.

Underground pun mendapat sorotan publik dari berbagai kalangan. Segala hal yang berbau underground akan selalu menjadi informasi yang menarik untuk disimak.

Ketika underground pun disebut-sebut sebagai ideologi perlawanan, ketika itupun underground menjadi sebuah komunitas yang diyakini melahirkan semangat independensi di kalangan anak muda.

D I Y (baca: di-ai-way) atau Do it yourself, dalam kalimat itulah spirit kemandirian itu terejawantahkan. Spirit ini menciptakan berbagai kreatifitas tak terduga, hingga memunculkan wabah independensi yang tak hanya diakui oleh segelintir kalangan, namun merebak seperti jamur.

Ujung Berung Rebels, sebuah komunitas underground di daerah Ujung Berung (Uber), Bandung Timur merupakan salah satu penggagas lahirnya etos kerja independensi tersebut di kota Bandung.

Komunitas ini pulalah yang ikut berpengaruh dalam tumbuh kembangnya band-band underground seperti Burgerkill, Jasad, Funeral, Forgotten, termasuk Beside, grup band yang kini jadi sorotan atas peristiwa di AACC.

Ketidaksetujuan pada kultur musik di tahun 80-an menjadi pemicu lahirnya independensi itu. Sebuah kultur senioritas, kultur festival yang dianggap menghambat kreatifitas, karena hanya grup band pemenang yang memiliki kesempatan untuk rekaman.

"Kultur senioritas, kultur festival menghambat grup-grup lain yang tidak keluar sebagai pemenang untuk melakukan rekaman," tutur salah satu anggota senior Ujung Berung Rebels, Iman Rahman, yang lebih akrab disapa Kimung (29).

Berawal dari nama Homeless Crew di tahun 94-an, merupakan embrio Ujung Berung Rebels. Nama itu diberikan sebagai salah satu bentuk penolakan terhadap filosofi rumah.

Ketika rumah selalu dijadikan patokan sebuah kenyamanan, ketika rumah menjadi satu-satunya tempat untuk berteduh, Homeless Crew coba mematahkan pemahaman tersebut.

Walaupun Homeless diartikan tak memiliki rumah, diakui Kimung, para anggota Homeless Crew pun memiliki rumah dan keluarga. Bahkan, bisa dikatakan mayoritas dari mereka berasal dari keluarga dengan pemahaman agama yang baik.

Namun ketika dihadapkan dengan realitas sosial dan budaya seringkali menimbulkan benturan-benturan dalam diri individu. Hingga menimbulkan pertanyaan-pertanyaan yang mungkin disalurkan secara ekstrim. Misalnya melalui lirik-lirik satanik atau pertanyaan paling ekstrim tentang Tuhan.

Metal, menjadi filosofi. Awalnya hanya 20 orang. Dari 20 orang tersebut, hanya 8-10 orang yang tergabung dalam grup band. Dipelopori oleh band-band seperti Funeral, Jasad, Orthodox dan Necromency.

Sebuah acara dengan nama Bedebah (Bandung Death Metal) sempat diudarakan di sebuah radio di Ujung Berung di tahun 1992. Kupasan tentang death metal menjadi topik yang mendapat sambutan hangat dari pendengar.

"Saat itu sambutan masyarakat cukup bagus ketika acara bedebah disiarkan," ujar Kimung.

Di tahun 1993, sebuah studio rekaman dengan nama Palapa, sekaligus sebagai tempat anak-anak muda nongkrong didirikan oleh Kang Memet. Di tempat ini, anak-anak Ujung Berung diberikan kesempatan untuk melakukan rekaman musiknya sendiri.

Pada tahun 1995 Yayat dari Jasad dan Dinan membentuk Ekstrim Noise Grinding (ENG). Sebuah tempat tongkrongan yang juga melahirkan zine, sebuah media komunitas dengan nama Revrogram, kepanjangan dari Revolusi Program.

Dari sini komunitas makin berkembang. Grup-grup band pun makin bertambah.

Cikal bakal nama Ujung Berung Rebels sendiri muncul pada tahun 1997. Saat itu, band-band di Ujung Berung memiliki keinginan untuk membuat album kompilasi dengan nama Ujung Berung Rebels.

Namun kemampuan finansial komunitas tidak mencukupi untuk menyelesaikan produksi rekaman sampai tuntas. Melalui bantuan dari salah satu anggota Pas Band, Richard, akhirnya terhubunglah mereka dengan sebuah major labels. Walau kemudian nama album dirubah menjadi Independen Rebels.

Namun, sampai saat ini, nama Ujung Berung Rebelslah yang dipertahankan. Sebuah komunitas, cair, tanpa hirarki, tapi memiliki solidaritas yang tinggi. Sekitar 16 band tergabung dalam komunitas ini.

Beberapa grup seperti Forgotten pernah merilis albumnya di Jerman pada tahun 1997, Jasad yang terjual 10 ribu copy di Amerika.

Begitu pula Burgerkill yang sempat mendapat kontrak dari salah satu label Internasional. Walau akhirnya, semangat independensi pulalah yang membuat Burgerkill memilih hengkang.

Tak hanya musik, dari komunitas ini lahir berbagai kreatifitas yang memberdayakan ekonomi kaum muda Ujung Berung.

Seperti fesyen yang sempat melahirkan distro Rebelion, distro kedua di kota Bandung walau kini sudah bubar. Selain itu ada perusahaan sablon, penerbitan sampai komunitas literasi dengan nama Minorbook.

(disadur dari: detikBandung,ema/ern)

ZINE UJUNGBERUNG REBELS


Salah satu indikator perkembangan sebuah komunitas dpt diukur dr keberadaan zine sbg alat informasi & komunikasi antar & antara komunitas. Dinamika perkembangan komunitas dpt ditelusuri dr sgl yg diberitakan dalam zine, baik bersifat jurnalisme ataupun wacana & sejarah.

Di Ujungberung Rebels (selanjutnya Uberebels), dlm kurun waktu 12 thn setidaknya ada 9 buah zine yg merekam dinamika perkembangan scene. Zine2 tsb adalah Revograms (1995-1997), Ujungberung Update (1998-1999), Loud n’ Freaks (1999), Crypt of the Abyss (1999), The Evening Sun (1999), Rottrevore Magz (1999-2004), New Noise (2000-2003), MinorBacaanKecil (2003-…), dan Totalokal (2005-…).

Revograms

Revograms selalu disebut2 sbg zine pertama di scene musik bawahtanah Indonesia. Zine ini digagas Dinan sbg salah satu manifestasi Extreme Noise Grinding, selain jg sbg corong propaganda event Bandung Berisik I.Revograms#1 terbit Maret 1995. Covernya gambar tangan Dinan, wajah monster ular dikelilingi tengkorak2 & wajah2 jiwa yg tersiksa di sekelilingnya. Di bawahnya ada tulisan dr rugos : Total Local Underground Info. Edisi ini digarap tim redaksi yg beranggotakan Ivan, Kimung, Dani, Dadan, Agus, Yayat & Gatot. Ivan, sang pemred menamai tim ini Tim Krucil Revograms. Dinan, editor, mengawasi tim ini, jg lini advertising (Agus), product sales (Ipunk & Yayat), editor foto (Sule), dan kontributor (Kang Soleh & Kang Bey). Markas redaksi di Jln Rumah Sakit No.72 Ujungberung dan markas distibusi di Palapa Photo Studio, Jl. Raya Ujungberung No.118. Di bawah informasi kru Revograms, Ivan menggambar komik pemuda metal mengacungan 2 jari simbol peace, dgn tulisan “No Posers! No Drugs! No Violence, Peace & Get a Better Life!”

Revograms#1 memuat 9 rubrik : “Graveyard Sound” (pengantar redaksi), “The Intruder” (wawancara), “Live Review” (liputan), “Cartoon Crew” (komik), “Black Isssue” (info band2 luar negeri), “Minded Mania” (info band2 lokal), dan “Dealer” (kolom iklan dgn biaya 1000 perak per-iklan). Revograms Vol.1 ditutup oleh back-cover propaganda merchandise ENG. Edisi ini 98% pengerjaannya kolase handmade. Pengantar redaksi dan live review benar-benar ditulis tangan oleh Ivan. Foto2 & artikel yg ditik dan print dilayout dgn sistem gunting-tempel di atas latar hitam, hlmn majalah horror luar negeri, atau kertas bergambar tangan Dinan.

Revograms#2 terbit Juli 1995. Di lini editor, kini Dinan didampingi Yayat, Dani (bendahara), Kang Soleh & Kang Bey (kontributor), advertising (Agus), editor foto (Sule), sementara tim redaksi kini adalah Ivan, Ipunk, Gatot & Georgy. Produk2 merchandise ditangani ENG Co. & distribusi ditangani Palapa Studio. Revograms#2 msh memuat rubrik yg sama, dgn penambahan rubrik ENG, Quiz & Demo Tape Promotion. Proses kreatifnya tdk jauh berbeda. Masih kolase gunting-tempel.

Di edisi#4, Revograms bersinergi dgn Graveyard Production-nya Mas Harry Surabaya, terbit Juli 1997 bbrp waktu sblm Bandung Berisik II. Pergelaran ini jg yg menjadi fokus utama Dinan dgn memajang iklan Bandung Berisik II yg provokatif di halaman depan & tengah. Dr iklan tsb, terlihat bgmn sinergi ENG yg telah menggurita dgn komunitas-komunitas di lain seluruh Indonesia. Sinergi ini diperkuat dgn pemuatan informasi Most Wanted Distributors musik metal bawahtanah di Bandung, Jakarta, Surabaya, Malang, Yogyakarta & Bali. Jaringan ini, selain mencakup peredaran merchandise band, jg kerja sama event musik & sharing media informasi & komunikasi. Di edisi ini Dinan kini menangani semua sendirian, hanya dibantu Mas Harry dr Surabaya. Dinan bahkan mengerjakan produksi Revograms#4 Juni 1997 di Surabaya. Ia jg memindahkan alamat Revograms ke rumahnya di Jl. Riung Karya Juang I No.12 Bandung 40295.

Revograms#4 dibagi tanpa rubrikasi, hanya menuliskan daftar bahasan & liputan. Ia mengulas band Rotten Corpse, Retribeauty, Trauma, Anti Septeic & Step Forward, mewawancara Burgerkill, meresensi kaset2 Forgotten, Grausig, Rotten Corpse, Perish, Eternal Madness, Turtles Jr., menuliskan essay mengenai sejarah Ujungberung dlm artikel “Bandung Timur Most Wanted”, serta memajang reaksi musisi dari kota-kota di Indonesia atas fitnah yang dimuat media besar Tabloid Adil yang memuat berita mengenai satanisme di kalangan musisi bawahtanah Indonesia. Ia jg memajang poster2 propaganda, terutama yg berkaitan dgn Bandung Berisik II. Di akhir essay “Bandung Timur Most Wanted”, Dinan menuliskan semangat juang para pentolan komunitas musik bawahtanah Ujungberung :

“Community bawah tanah Bandung Timur People yg hidup di bawah standar umum sosial tidak membuat mereka mengeluh kelamaan. Orang-orang spt Yayat (Jasad), Amank (Embalmed), Andries (Sonic Torment), Ara (Naked Truth), & Addi (Forgotten), mereka adalah orang-orang yang tanpa lelah terus berusaha & berkarya mendedikasikan seluruh hidupnya untuk musik & community dunia bawah underground Bandung. mereka memang bukan yang pertama & yg terbaik, tapi mereka yakin bahwa mereka tidak mau jadi yg terakhir… How about you?”



Ujungberung Update

Ujungberung Update digagas Addy Gembel, Amenk & Sule. Update dibuat sbg corong propaganda kompilasi Ujungberung Rebels & berbentuk selembaran A3. Ketika terbit Juni 1998, Update#1 lsg menghajar dgn kritik sosial thd kondisi krisis moneter & bgt banyak politisi oportunis, seniman, musisi, dll yg bagi anak2 Uberebels tak lebih di pahlawan kesiangan yg cuma posing belaka. Essay yg ditulis Addy Gembel itu jg memepertanyakan kembali nilai2 & komitmen yg kuat dlm kutur musik bawahtanah serta perkenalan konsep & prinsip2 komunitas Ujungberung Rebels. Di akhir wacana, Gembel memperkenalkan 14 band Ujungberung Rebels, yaitu Burgerkill, Impure, Dining Out, Disinfected, Restless, Jasad, The Cruels, naked Truth, Disorder Lies, Sacrilegious, Suffer Remains, Beside, Forgotten, Bedebah, dan Ekstrim Kanan. Di hlmn selanjutnya Update memuat dua rubrik, yaitu “BISU”(Brutal Issue Selebritis Ujungberung), dan “Rebel Attitude”. Keduanya merupakan kolom gosip kalangan anak2 Ujungberung. Dua kolom ini lalu tenar dgn sebutan “Gogon” atau “Gosip-gosip Underground.”

Di edisi kedua, Maret 1999, Gembel kembali menghajar tatanan pemikiran komunitas dgn

Intro “Manusia Dikutuk untuk Bebas.”, sebuah propaganda yang lain tentang memutuskan sendiri bagaimana cara untuk hidup sekaligus menyoroti cap band komersil kepada band2 Uberebels hanya krn mrk meminta bayaran kepada pihak penyelenggara event atas nama slogan yg penyeleggara bikin sendiri : “Support Your Local Underground Bands!” Di hlmn belakang, Gembel mempublis surat cintanya “Surat Cinta Homeless Crew”, yg pd hakikatnya pengenalan eksistensi attitude bawahtanah, sgala pertentangan & kompleksitas hubungan sosialnya dgn masyarakat banyak, hingga ke hubungan yg paling personal : percintaan.



Loud n’ Freaks

Loud n Freaks digagas Toto Burgerkill (editor), Feby Balcony (desain), & Pam Runtah (kontributor). Ini adalah zine khusus penggemar hardcore & memuat info2 ttg hardcore serta gaya hidupnya dgn markas di Jl. Golf D2/1B Cisaranten Ujungberung.. Edisi#1 terbit Januari 1999 dgn rubrik Core (redaksional), Essay2 (ada empat “Underground kembali ke Do It Yourself”, “Jangan Gunakan XXX Sembarangan”, “Anarki Apakah Bisa Eksis di Republik Indonesia”, dan “Borok Attitude Masih Perlukah Dianggap Rendah”), World Wide Hardcore Scene (info scene hardcore dunia), Wawancara (Forgotten, Savor of Filth, Turtles Jr., Reportase Show, Bandung Underground Info, Review Band (Take A Stand & Disinfected), Review Musik (Balcony, CoreTex, Friday 13th, Forgotten, Grill Salmon, Impious, Jeruji, Kekal, Naked Truth, Noin Bullet, Turtles Jr.) Review Fanzine (Tigabelas#1, Pangcore#3&4, Over the Edge#9, Revolted#1, The Kan Du#1, In Effect, International Straight Edge Bulletin, Reflection, Lion City Skins, Neptune), dan Ending. Di Ending, Toto menulis : “Kami benar-benar ingin mempertahankan fanzine ini sehingga kita akan kembali bekerja untuk edisi mendatang. Mudah-mudahan kami tidak mendapat banyak masalah yang berarti dan dengan cepat dapat menjumpai kalian semua. Kalian yang mendukung penuh dan antusias, tunggu apa lagi… Label, distro, band, individu, atau siapa saja, ditunggu kontribusinya. See you…” Loud n’ Freaks memang hanya bertahan satu terbitan lagi, namun dari struktur penempatan rubrikasi para penggagas semakin menyetarakan scene lokal dan scene global.



Crypt of the Abyss

Crypt of the Abyss digagas Opik Sacrilegious, berisi info2 black metal. Di edisi pertama tanpa tedeng aling2 Opik membuka Crypt dengan What the Hell Inside this Isuue (isi), sebuah Introduction (pengantar dengan ilustrasi bintang porno Asia Carerra) dan The Enlightment. Crypt mereview band Incantation, Arcanum (lokal), Celestral (lokal), Point Blank (lokal), Virus Politik (lokal), Vile Intent, Jasad (lokal), Conceal, dan Nocturnal Orchestra (lokal). Dari set ini kita tahu jika pd masa ini pemuatan rubrikasi review band telah lepas dari batasan Negara. Segalanya sudah semakin mencair dan band2 lokal sudah dianggap sejajar dengan band2 luar negeri.

Untuk dukungannya terhadap scene musik local, Cryp punya rubrik Disorderly Trunks of Unusually Crypt Tempest, mereview band The Abyss, Marduk, Disinfected, Decay, Sacrilegious, Amalthea, v.a Brutally Sickness Vol.2, Forgotten, Victim of Rage, Injected Sufferage, Naked Truth, Sepultura, Motor Death, Unseen Darkness, Embalmer, Dimmu Borgir, dan v.a Death is Just the Beginning Vol.4. Crypt jg memuat review zine-zine lokal seperti Morbid Noise Zine & Gerilya Underground Fanzine, selain mengiklankan The Evening Sun.

Untuk berita, Crypt punya rubric News, Whole Sale Price List June-July 1999 Focflame Records Bandung, dan Scene Report Ujungberung Rebels yang memuat kabar2 terbaru anak2 Uberrebels. Crypt juga memuat iklan Rebel Sound & Rebelliondgn produksi merchandise Burgerkill Every Mother’s Nightmare dan Everything Sucks, Disinfected logo dan Within Subsconcious Mind, serta Forgotten Obsesi Mati.



The Evening Sun

Majalah gothic pertama di Indonesia yang digagasDani, salah satu pionir Uberebels, penabuh drum Jasad dan pendiri band gothic, Restless. The Evening Sun memuat artikel mengenai sejarah gothic, musik, scene gothic lokal dan luar negeri, dan perkembangannya kini. Memuat wawancara Within Temptation, Pilori, ulasan mengenai Theater Tragedy, Sirrah, dan segala macam pergothikan. The Evening Sun hanya satu kali terbit pada Oktober 1999.



Rottrevore Magz

Rottrevore adalah majalah tergaya di di Uberebels. Inilah satu2nya zine yg dicetak dgn kualitas baik. Rotrevore digagas Ferly, Rio, dan Andre. Rottrevoe juga dapat disebut sebagai zine metal bawahtanah terbaik yang pernah ada di Indonesia baik dalam sisi tataletak maupun dalam isi. Wacana yang diangkat lebih mendalam santai, namun tak mengurangi kegaharan sebuah zine metal yang seharusnya. Rottrevore selalu menggunakan kertas buram, dan di siniliah pemberontakan itu ada. Sebagai zine yang berpihak kepada musik bawahtanah, Rottrevore memang yg terbaik.







New Noise

Setelah Loud n Freaks tak berjalan, Toto berkolaborasi dengan Eben untuk menerbitkan sebuah zine hardcore, metal, dan punks. Zine mereka berdua adalah New Noise, menampilkan kabar-kabar terbaru mengenai scene metal, hardcore, dan punk. New Noise terbit lima kali sepanjang 2000 hingga 2003. Formatnya sudah jauh lebih baik dari zine-zine yang sudah pernah terbit. Dilayout oleh Eben dalam Adobe Photoshop dan CorelDraw.



MinorBacaanKecil

MinorBacaanKecil—selanjutnya Minor saja—sebenarnya tdk bersinggungan lsg dgn Uberebels, selain dibuat o/ Kimung yg notabene besar di Uberebels. Minor dibuat tahun 2003 oleh Norvan, Kimung, Congor, Popup, Danive, Hana, Nyda, dan Sundea di Negeri di Awan, Sastra Unpad. Setelah edisi ke 9 barulah Minor bersinggungan dengan Uberebels, ketika Minor memuat Ujungberung Update sebagai rubrik tetapnya. Pemuatan ini adalah salah satu upaya dukungan Minor thd penerbitan buku Panceg Dina Jalur : Ujungberung Rebels yg akan ditulis Kimung & Addy Gembel dan diterbitkan Minor Books 2008. Sebelumnya, Uberebels sempat bersinergi juga dgn Minor melalui sayap penerbitannya, Minor Books. Minor Books memulai debutnya dgn menerbitkan buku kumpulan cerpen karya Addy Gembel, Minor Books 14 Agustus 2004. Yang paling update dan fenomenal, tentu saja penerbitan buku Myself : Scumbag Beyond Life and Death, sebuah biografi Ivan Scumbag karya Kimung yang diterbitkan Minor Books, 11 November 2007.



Totalokal

Totalokal digagas Pei, Aas, dan Asmo sejak Februari 2007, sebagai manifestasi dari propaganda “Never Grow Up” yang digagas Distribute. Edisi pertamanya mengangkat judul Totalokal Listen to the Children. Totalokal punya rubrik Band Highlight, di edisi pertama memuat review Pitfall dan wawancara Bedaxsaripohacy. Totalokal lalu memulai propaganda merchandise mereka dgn desain2 merchandise utk bayi & anak2, semua produk Parental Advisory dan Distrubute. Namun tak lama beriklan, Totalokal segera menghajar dgn Issue : “Lawan Human Trafficking” dan essay

“NGU#4 the Newsletter on Children Behalf : What’s Beyond Growing Up” yang merupakan perkenalan propaganda Never Grow Up. Totalokal#1 juga memuat sebuah hotspot seni di Bandung, Jendela Ide Kids Percussion dan sk8par anak, The Neverlands, di depan markas Distribute, Baranangsiang, Kosambi, Bandung.

Di edisi lainnya, terbit Februari 2008, Totalokal A Never Grow Up Zine hadir menyikapi tragedi AACC dan menjadi salah satu informasi yang banyak dibaca selain Minor. Totalokal menjadi salah satu propaganda penggalangan dana sekaligus media ucapan belasungkawa & pengguliran wacana mengenai subkultur “underground”.Edisi ini Totalokal jg memuat info Yayasan Adikaka, The Neverlands, wawancara bomber lokal Kiddy, essay “History of Grafitti 1960-1980”, review:D’Army, Rabies, Koil, Burgerkill, Superabundance, & buku karya Kimung, Myself Scumbag Beyond Life and Death, Minor Books, November 2007, dan reportase National Skateboarding Championship 2007, Margo City, Depok, 25 Nov 2007. [ disadul dari dulur,kimun666.wordpress.com]