Komik Indonesia telah mengalami titik redup sejak 1980-an. Komik Indonesia telah kalah dengan serbuan komik asing di kandang sendiri, terutama manga (komik jepang) dan produk-produk anime dari Jepang. Komik Indonesia memang sulit diproduksi sehingga banyak penerbit suka menerbitkan komik impor. Ditengah-tengah gempuran demikian, komik Indonesia diam-diam terus menggeliat oleh gerakan komik underground. Komik Indonesia tidak pernah mati. Inilah saatnya perlawanan, let’s break the circle.
Istilah komik underground sering disebut komik independen atau komik indie label. Intinya sama, melakukan perlawanan terhadap konvensi artistik dan pemasaran. Ini merupakan suatu perjuangan karena banyak tembok penghalang yang harus dilawan untuk melahirkan sebuah komik yang bisa dibaca banyak orang.
Dua tiga tahun terakhir ini seiring dengan geliat penerbitan buku-buku dan media alternatif ( bulletin, newsletter, communitty magazine ) di Yogyakarta dan Bandung, dua kota dimana perkembangan cultural studies-nya sedang memuncak bermunculan terbitan-terbitan komik underground mewarnai jejek perjalanan sejarah komik Indonesia.
Komik Selamat Pagi Urbaz terbitan Terran Books yang baru saaja sukses mendulang keuntungan dari penerbitan novel Eiffel, I’m in Love. Di Yogya muncul antologi komik bertajuk Subversi Komik yang terbit sejak Mei 2004. Di Bandung terbit komik Bangor karya Raditya Eka Permana yang bergaya kartun setengah manga dan komik Wanter karya Dodi Rosadi. Ada juga komik SC ( Super Condom ) yang begitu nyeleneh dan Dave Salamander komik lokal karya Tunjung Rukmo dan Denny Djoenad. Produk-produk independen semacam ini bergeliat di toko-toko buku komunitas atau biasa disebut distro, selain ada juga yang menempuh jalur distribusi toko buku umum seperti Selamat Pagi Urbaz.
Perkembangan komik lokal yang diteruskan oleh para ‘;pejuang underground’ memang menggembirakan walau sekaligus menyimpan kecemasan. Menggembirakan karena menghasilkan produk dari pelbagai komunitas komik, tapi mencemaskan karena karya yang ada rata-rata masih gagal secara apresiatif.
Para komikus yang rata-rata ‘bersembunyi’ dalam profesi lain misalnya animator iklan, desainer grafis, dan ilustrator buku atau majalah natabene masih kurang mengeksplorasi kemampuan terbaiknya dalam menghasilkan komik. Alhasil, komik yang ada cenderung senada –kebanyakan bergaya manga dan anime jepang. Atau ketika mengeksplorasi gaya lain, tetap aja terjerembab pada kemiskinan bercerita sehingga walau unggul secara visual tapi gagal secara naratif. Misalnya sastra, yang begitu dengan hakikat bercerita, jarang muncul sehingga karya yang dihasikan kurang mampu di apresiasi dari perspektif lain. Sebutlah R.A Konasih dengan komik wayangnya adalah bukti keberhasilan dia meretes bidang lain, yaitu sejarah dan filsafat wayang setelah pencapaian visual.
Bukan hal mudah jika para komikus yang hanya menghasikan karya yang notabene kurang berpotensi menjadi karya besar. Tumbuhya gerakan komik underground di Indonesia memang belum sebanding dengan yang pernah terjadi di Amerika, walaupun bukan berarti tak ada harapan suatu saat karya komik lokal kita unggul secara kualitas dan kuantitas.
Saat ini walau gerakan komik underground Indonesia masih belum menghasilkan karya-karya yang layak secara apresiatif sebenarnya masih menyisakan harapan bahwa perjuangan dengan cita-cita menegakkan jayanya komik nasional tak pernah surut. Tekanan yang muncul dari berbagai hambatan dan rintangan untuk berkembang, memang kemudian justru menciptakan ruang-ruang perlawanan kreatif dari para komikus muda.
Tumbuhnya pelbagai komunitas komik underground Indonesia sebagai representasi perlawanan terbitnya komik impor adalah indikasi kegairahan itu sehingga bukan tak mungkin suatu saat dapat menjadi seperti perlawanan yang dilakukan komunitas komik underground di Ameroka, yaitu berhasil menjadi gerakan yang sekaligus unggul secara kualitas.
Semangat komikus muda yang terbuka pada pelbagai pemikiran hendaklah digali lebih luas sehingga komik nasional suatu saat benar-benar mampu berdiri tegak secara kualitas, tak hanya menjadi letupan kecil semata. Stand up for creativity! (ocl/indiecomic.com)
Selasa, 09 Desember 2008
Langgan:
Poskan Komentar (Atom)



0 komentar:
Poskan Komentar